Jumat, 24 Juni 2011

Minimalkan Resiko, Mahasiswa UMY Rakit Robot Pengintai
















Yogyakarta- Teknologi pengambilan gambar maupun video saat ini telah mengalami perkembangan. Namun, hal tersebut disadari sangat berbahaya saat harus melakukan pengambilan gambar atau video dalam reruntuhan bangunan atau terowongan karena berpotensi menimbulkan cidera atau kecelakaan bagi pengguna alat rekam.

Oleh karenanya, sebagai upaya untuk mengurangi tingkat risiko yang ditimbulkan , Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadyah Yogyakarta (UMY), Muhamad Yusvin Mustar terdorong untuk membuat robot berbentuk tank yang menggunakan kamera Closed Circuit Television (CCTV) wireless dan menggunakan mikrokontroller. Dengan alat tersebut, risiko kecelakaan ketika mengambil gambar atau video dapat dikurangi.

Yusvin menuturkan melalui robot yang dibuatnya, orang dapat memantau sekaligus mengetahui kondisi secara langsung suatu tempat yang diduga berbahaya. “Misalnya bangunan tersebut nyaris roboh, maka robot itu dapat dikendalikan secara jarak jauh sehingga orang tetap bisa memantau keadaan apakah bangunan di dalamnya cukup aman untuk dimasuki atau tidak. Selain itu, robot juga berfungsi untuk mengetahui apakah di dalam ruangan tersebut terdapat benda berbahaya, misalnya bom. Sehingga ketika memang berbahaya, maka risiko kecelakaan dapat dikurangi.,”jelasnya ketika ditemui di Kampus Terpadu UMY, Rabu (22/6).

Ia menuturkan, pada dasarnya robot yang telah dibuatnya tersebut bertujuan agar memudahkan dan mengefisienkan kerja manusia dalam melakukan pengambilan gambar dan video oleh manusia. “Khususnya pada tempat-tempat yang memiliki tingkat kerawanan yang dapat menimbulkan kecelakaan ataupun kesulitan.”urai Yusvin.

Yusvin menjelaskan orang tidak perlu memasuki tempat berbahaya tersebut, dari luar cukup menggerakkan robot berkamera ini menggunakan remote control. "Sehingga orang cukup mengetahui apa yang ada dalam ruangan melalui pantauan robot berkamera yang gambarnya dapat dilihat di layar computer atau laptop. Melalui gambaran tersebut, orang bisa mengambil keputusan atau tindakan yang perlu dilakukan setelah melihat kondisi yang digambarkan oleh robot tersebut,."tambahnya.

Terkait cara kerja robot tersebut, Yusvin menguraikan robot dihidupkan dengan menekan saklar on/off yang berwarna merah yang berada di sisi kanan belakang robot. Sedangkan pada remote terletak pada bagian depan remote yang berwarna putih.

"Setelah robot dan remote dihidupkan, kemudian sistem pengontrolan dicek semua. Dimulai dengan menjalankan sistem navigasi robot, Anda dapat mencoba menjalankan sistem penggerak kamera robot dan terakhir mencoba sistem sensor tabrak. Jika terdapat permasalahan, alat bisa dicek ulang kembali tiap sistem pengontrolan sampai sistem pengontrolan bekerja sesuai fungsinya. Selanjutnya, jika semua sistem dapat bekerja dengan baik, maka Anda dapat beralih pada konfigurasi pada komputer atau laptop,"urainya.

Konfigurasi computer atau laptop dengan menghubungkan antara sistem CCTV wireless yang terdapat pada robot dengan komputer atau laptop sebagai media penampilan data. Wireless merupakan alat yang menghubungkan dua alat untuk bertukar data atau suara tanpa menggunakan media kabel."Merangkai perangkat-perangkat pendukung untuk menampilkan data audio dan video. Setelah semua dapat bekerja dengan baik semua fungsinya robot siap digunakan,"ujarnya.

Dalam penuturannya, robot tersebut dapat bergerak ke depan, mundur ke kanan maupun ke kiri. "Kamera yang digunakan pun juga bisa bergerak ke kanan, kiri, atas, bawah. Orang bisa menggerakkan menggunakan remote. "tambahnya.

Robot ini dapat bekerja optimal pada kondisi jarak 1-11 meter. "Sedangkan ketika hanya untuk menjalankan robot tanpa menggunakan sistem penggerak kamera dan sensor tabrak robot dapat bekerja maksimal pada kondisi jarak 1-27 meter,"tuturnya.

Yusvin menambahkan bahwa robot ini dapat beroperasi di dua tempat baik di dalam maupun luar ruangan. "Selain itu robot dilengkapi dengan sensor tabrak berupa switch yang berada pada bagian depan, belakang, sisi kiri dan kanan robot. Nantinya ketika sensor robot menabrak rintangan di depan atau samping, maka sensor dalam remote control akan menyala sehingga kita dapat mengetahui kondisi robot pada saat mendapat rintangan."katanya.(www.umy.ac.id)

Kamis, 23 Juni 2011

KOLOM: Sejarah "Hitam" Kaum Wahabi















23/06/2011 11:49
Oleh: MN Harisudin

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma' had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam'iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Hanya saja, kali ini, karena keterbatasan space, saya akan membatasi tulisan ini pada bahasan kutub ekstrem yang pertama, Wahabi. Pun bahwa saya akan membatasi pembahasan Wahabi secara khusus pada sejarah kelamnya di masa lampau, belum pada doktrin-doktrin, tokoh-tokohnya atau juga yang lainnya. Saya berharap bahwa fakta sejarah ini akan dapat kita gunakan untuk memprediksi kehidupan sosial keagamaan kita di masa-masa yang akan datang. Karena bagaimanapun juga, apa yang dilakukan oleh kaum Wahabi saat itu merupakan goresan noda hitam. Goresan noda hitam inilah yang kini mengubah wajah Islam yang sejatinya pro damai menjadi sangat keras dan mengubah Islam yang semula ramah menjadi penuh amarah.


***

Sebagaimana dimaklumi, kaum Wahabi adalah sebuah sekte Islam yang kaku dan keras serta menjadi pengikut Muhammad Ibn Abdul Wahab. Ayahnya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim Uyainah pengikut Ahmad Ibn Hanbal. Ibnu Abd Wahab sendiri lahir pada tahun 1703 M/1115 H di Uyainah, masuk daerah Najd yang menjadi belahan Timur kerajaan Saudi Arabia sekarang. Dalam perjalanan sejarahnya, Abdul Wahab, sang ayah harus diberhentikan dari jabatan hakim dan dikeluarkan dari Uyainah pada tahun 1726 M/1139 H karena ulah sang anak yang aneh dan membahayakan tersebut. Kakak kandungnya, Sulaiman bin Abd Wahab mengkritik dan menolak secara panjang lebar tentang pemikiran adik kandungnya tersebut (as-sawaiq al-ilahiyah fi ar-rad al-wahabiyah). (Abdurrahman Wahid: Ilusi Negara Islam, 2009, hlm. 62)

Pemikiran Wahabi yang keras dan kaku ini dipicu oleh pemahaman keagamaan yang mengacu bunyi harfiah teks al-Qur'an maupun al-Hadits. Ini yang menjadikan Wahabi menjadi sangat anti-tradisi, menolak tahlil, maulid Nabi Saw, barzanji, manaqib, dan sebagainya. Pemahaman yang literer ala Wahabi pada akhirnya mengeklusi dan memandang orang-orang di luar Wahabi sebagai orang kafir dan keluar dari Islam. Dus, orang Wahabi merasa dirinya sebagai orang yang paling benar, paling muslim, paling saleh, paling mukmin dan juga paling selamat. Mereka lupa bahwa keselamatan yang sejati tidak ditunjukkan dengan klaim-klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara beragama yang ikhlas, tulus dan tunduk sepenuhnya pada Allah Swt.

Namun, ironisnya pemahaman keagamaan Wahabi ini ditopang oleh kekuasaan Ibnu Saud yang saat itu menjadi penguasa Najd. Ibnu Saud sendiri adalah seorang politikus yang cerdas yang hanya memanfaatkan dukungan Wahabi, demi untuk meraih kepentingan politiknya belaka. Ibnu Saud misalnya meminta kompensasi jaminan Ibnu Abdul Wahab agar tidak mengganggu kebiasaannya mengumpulkan upeti tahunan dari penduduk Dir'iyyah. Koalisipun dibangun secara permanen untuk meneguhkan keduanya. Jika sebelum bergabung dengan kekuasaan, Ibnu Abdul Wahab telah melakukan kekerasan dengan membid'ahkan dan mengkafirkan orang di luar mereka, maka ketika kekuasaan Ibnu Saud menopangnya, Ibnu Abdul Wahab sontak melakukan kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Pada tahun 1746 M/1159 H, koalisi Ibnu Abdul Wahab dan Ibnu Saud memproklamirkan jihad melawan siapapun yang berbeda pemahaman tauhid dengan mereka. Mereka tak segan-segan menyerang yang tidak sepaham dengan tuduhan syirik, murtad dan kafir. Setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka dianggap murtad, yang oleh karenanya, boleh dan bahkan wajib diperangi. Sementara, predikat muslim menurut Wahabi, hanya merujuk secara eklusif pada pengikut Wahabi, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H, Wahabi menyerang Karbala dan membunuh mayoritas penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di rumah, termasuk anak-anak dan wanita.

Tak lama kemudian, yaitu tahun 1805 M/1220 H, Wahabi merebut kota Madinah. Satu tahun berikutnya, Wahabi pun menguasai kota Mekah. Di dua kota ini, Wahabi mendudukinya selama enam tahun setengah. Para ulama dipaksa sumpah setia dalam todongan senjata. Pembantaian demi pembantaian pun dimulai. Wahabi pun melakukan penghancuran besar-besaran terhadap bangunan bersejarah dan pekuburan, pembakaran buku-buku selain al-Qur'an dan al-Hadits, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa mau'idzah hasanah sebelum khutbah Jumat, larangan memiliki rokok dan menghisapnya bahkan sempat mengharamkan kopi.

Tercatat dalam sejarah, Wahabi selalu menggunakan jalan kekerasan baik secara doktrinal, kultural maupun sosial. Misalnya, dalam penaklukan jazirah Arab hingga tahun 1920-an, lebih dari 400 ribu umat Islam telah dibunuh dan dieksekusi secara publik, termasuk anak-anak dan wanita. (Hamid Algar: Wahabism, A Critical Essay, hlm. 42). Ketika berkuasa di Hijaz, Wahabi menyembelih Syaikh Abdullah Zawawi, guru para ulama Madzhab Syafii, meskipun umur beliau sudah sembilan puluh tahun. (M. Idrus Romli: Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi, 2010, hlm. 27). Di samping itu, kekayaan dan para wanita di daerah yang ditaklukkan Wahabi, acapkali juga dibawa mereka sebagai harta rampasan perang.

Di sini, setidaknya kita melihat dua hal tipologi Wahabi yang senantiasa memaksakan kehendak pemikirannya. Pertama, ketika belum memiliki kekuatan fisik dan militer, Wahabi melakukan kekerasan secara doktrinal, intelektual dan psikologis dengan menyerang siapapun yang berbeda dengan mereka sebagai murtad, musyrik dan kafir. Kedua, setelah mereka memiliki kekuatan fisik dan militer, tuduhan-tuduhan tersebut dilanjutkan dengan kekerasan fisik dengan cara amputasi, pemukulan dan bahkan pembunuhan. Ironisnya, Wahabi ini menyebut yang apa yang dilakukannya sebagai dakwah dan amar maruf nahi mungkar yang menjadi intisari ajaran Islam.

***

Membanjirnya buku-buku Wahabi di Toko Buku Gramedia, Toga Mas, dan sebagainya akhir-akhir ini, hemat saya, adalah merupakan teror dan jalan kekerasan yang ditempuh kaum Wahabi secara doktrinal, intelektual dan sekaligus psikologis terhadap umat Islam di Indonesia. Wahabi Indonesia yang merasa masih lemah saat ini menilai bahwa cara efektif yang bisa dilakukan adalah dengan membid'ahkan, memurtadkan, memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang berada di luar mereka. Jumlah mereka yang minoritas hanya memungkinkan mereka untuk melakukan jalan tersebut di tengah-tengah kran demokrasi yang dibuka lebar-lebar untuk mereka.

Saya yakin seyakin-yakinnya jika suatu saat nanti kaum Wahabi di negeri ini memiliki kekuasaan yang berlebih dan kekuatan militer di negeri ini, mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan dengan pembantaian dan pembunuhan terhadap sesama muslim yang tidak satu paham dengan mereka. Jika wong NU, jam'iyyah Nahdlatul Ulama, dan ormas lain yang satu barisan dengan keislaman yang moderat dan rahmatan lil alamien tidak mampu membentenginya, saya membayangkan Indonesia yang kelak menjadi Arab Saudi jilid kedua. Saya tidak dapat membayangkan betapa mirisnya jika para kiai dan ulama kita kelak akan menjadi korban pembantaian kaum Wahabi, terutama ketika mereka sedang berkuasa di negeri ini. Naudzubillah wa naudzubilah min dzalik.
Wallahualam. **

* Wakil Sekretaris PCNU Jember, Wakil Sekretaris Yayasan Pendidikan Nahdaltul Ulama Jember, PW Lajnah Talif wa an-Nasyr NU Jawa Timur dan kini menjabat sebagai Deputi Direktur Salsabila Group.

Selasa, 21 Juni 2011

Gendhing Bahana UAD Bercerita di tiga Kampus







Sabtu, 18-06-2011
Yogyakarta- Seni merupakan salah satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejajar dengan perkembangan manusia, khususnya perihal yang berhubungan dengan kreativitas manusia. Kehadiran seni tidak akan lepas dari hal-hal yang bersifat keindahan, karena hakikat yang mendasari kesucian dalam berkesenian adalah nurani. Nurani adalah rumah bagi segala unsur dan zat yang direkam oleh indra manusia.

Nurani merupakan pintu bagi seni untuk menemukan jati dirinya. Tetapi, kesejatian itu akan tumbuh jika kesenian mampu menjelma dari aku lirik menjadi aku publik. Artinya, sesuatu yang dirasakan oleh seorang atau sekelompok seniman akan memiliki makna lebih jika dilayarkan ke tengah masyarakat umum. Inilah salah satu alasan yang mendasari kelompok Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gendhing Bahana Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (UAD) Yogyakarta berkeliling kampus untuk memperkenalkan kebudayaan gamelan dan kesejatian diri mereka dalam bergamelan.

Dalam pementasan kelilingnya kali ini, Gendhing Bahana mengangkat tema "Gamelan bercerita". Mereka mencoba bercerita melalui keahlian bermusik mereka (khususnya gamelan) dengan membawakan enam lagu yang tidak asing lagi, seperti: Nyundha Layang, Swara Suling, Lir-Ilir, Jaranan, Mayar Sewu, Sluku-sluku Bathok dan Pantun Panuntun. "Ini adalah bukti eksistensi kami. Semoga enam lagu yang akan kami pentaskan nanti mampu menyadarkan mahasiswa dan masyarakat kampus khususnya dan khalayak umumnya tentang pentingnya menjaga kelestarian kebuadayaan nusantara. Kewajiban ini bukan hanya tertuju pada kami, tapi untuk kita semua." ungkap Ririn Rahmawati salah satu panitia sekaligus pemain dalam pementasan tersebut.

"Pementasan di Hall kampus UAD II hari ini (Rabu, 15 Juni 2011) adalah pentas kedua kami. Sebelumnya kami sudah perform di Hall kampus I UAD, Jl. Kapas 9, Semaki, Yokyakarta pada tanggal 13 Juni kemarin. Pentas kami ini akan bermuara di kampus UAD III, Jl. Prof. Soepomo, Janturan, Warung Boto, Yogyakarta pada taggal 18 Juni nanti. Semoga dengan pentas keliling tiga kampus ini, para mahasiswa sadar akan kehadiran gamelan sebagai bagian dari kebudayaan bangsa yang harus dilestarikan, dan Gendhing Bahana sebagai salah satu komunitas yang aktif melestarikannya." tegas Antin Setiyani, mahasiswa smester 6 prodi Sastra Inggris yang menjabat sebagai ketua Gendhing Bahana sesaat sebelum acara dimulai.(www.uad.ac.id)

Warta: Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)











21/06/2011 15:47


Jepara, NU Online
Kompleksnya problem yang dihadapi oleh Nelayan mulai dari ketidakstabilan harga hasil tangkapan (ikan), maraknya praktik-praktik kelautan yang merugikan nelayan (Industrialisasi wilayah pesisir dan penambangan pasir), konflik antar nelayan karena penggunaan alat tangkap modern (trawl/cothok/arad), mendorong Lakpesdam NU Jepara untuk melakukan pendampingan terhadap Nelayan.

Pendampingan Nelayan khususnya nelayan Jepara utara yang tergabung dalam wadah Fornel (Forum Nelayan). Fornel Merupakan gabunagan dari 20 kelompok nelayan di wilayah Jepara utara (Kecamatan Mlonggo, Kecamatan Bangsri, Kecamatan Kembang, Kecamatan Keling dan Kecamatan Donorojo). Jika di lihat dari panjang pantai Jepara kurang lebih 80 Kilo Meter, Fornel ada di separo panjang pantai Jepara dan merupakan daerah rawan konflik baik dengan nelayan lokal sendiri maupun nelayan dari luar Jepara.

Sementara itu advokasi Lakpesdam NU Jepara pada Fornel dilakukan sejak Tahun 2007, di awali oleh kasus kerusakan jaring nelayan karena tertabrak kapal pengangkut batu bara yang menyuplai PLTU Tanjung Jati B, Lakpesdam NU melakukan advokasi secara intens sampai didapatkanya ganti rugi dari pihak PLTU TJB.

Proses pergumulan dan advokasi ini terus dilakukan seolah tanpa mengenal lelah, dalam perkembangannya ranah advokasi Lakpesdam NU terhadap nelayan tidak hanya konflik nelayan dengan PLTU TJB tetapi Lakpesdam NU juga melakukan advokasi dalam hal kebijakan anggaran, proses penyusunan regulasi yang mengatur pengelolaan kelauatan, perikanan, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dan akses jaminan kesehatan masyarakat maupun jaminan kesehatan daerah, serta akses pemenuhan hak dasar lainya.

Dalam melakukan advokasi ini Lakpesdam melakukan jejaring dengan lembaga-lembaga yang konsen terhadap nelayan diantaranya YAPHI Solo, LBH-Semarang, Layar Nusantara, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dan termasuk dengan Pemerintah Daerah dan DPRD.

Proses mendinamisir masyarakat Nelayan berjalan secara baik, namun disekitar Tahun 2010 berawal dari tingginya kasus kerusakan jarring nelayan oleh kapal pengangkut batu bara yang mencapai 25 kasus lebih dalam kurun waktu tidak kurang dua bulan mendorong FORNEL bersama dengan Lakpesdam NU, YAPHI dan LBH-Semarang melakukan negosiasi dengan pihak PLTU TJB secara lebih intens.

Beberapa upaya dilakukan diataranya meminta Pemerintah Kabupaten dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk memfasilitasi dan memediasi namun berakhir dengan kekecewaan, sehingga upaya melakukan negosiasi secara langsung dilakukan, pada saat itulah derasnya gelombang pemberitaan media tentang kasus ini, mendorong juga PLTU TJB melakukan langkah-langkah persuasif diantaranya meminta bantuan Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) yang merupakan organ taktis dari sebuah partai Islam yang dekat dengan gerakan Wahabi untuk melakukan lobi-lobi dengan nelayan.

Negosiasi berjalan alot dan panjang, nelayan bersama Lakpesdam NU dan jaringan berbenturan dengan PLTU TJB, PT. PLN Persero dan PPNSI, hasil pertemuan atau negosiasi itu menghasilkan beberapa kesepakatan, beberapa kesepakatan itu diataranya; 1). Kesanggupan pihak PLTU TJB memberikan ganti rugi, 2). Adanya nota kesepahaman dan mekanisme penyelesaian jangka panjang jika terjadi kerugian nelayan dikemudian hari sebagai akibat dari aktivitas PLTU TJB secara umum.

Bertitik dari situlah kemudian advokasi Lakpesdam NU tidak hanya sebatas menuntut hak nelayan secara matriil, tapi advokasi ideolagi Ke-NU-an nelayan menjadi pekerjaan tambahan yang harus digarap secara serius, karena mayoritas nelayan yang tergabung dalam Fornel merupakan Jamaah NU. Semangat ini yang terus dikobarkan dalam diri person-person Lakpesdam NU Jepara. (bersambung)

















Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan
(BAGIAN 2)

Jepara, NU Online
Perkembangan dinamika sosial-ekonomi dan politik lokal memiliki dampak yang signifikan terhadap perjuangan Lakpesdam NU dalam menyelamatkan idiologi ke-NU-an nelayan, sehingga perjuangan ini juga mengalami fase pasang surut, sementara itu gerakan massive terus dilakukan oleh wahabi bersama organ-organ politik maupun taktisnya.

Menyikapi kondisi ini, konsolidasi dan koordinasi terus dibangun oleh Lakpesdam NU dalam rangkan membendung gerakan wahabi. Titik kritisnya adalah ketika tanggal 29 Mei 2011 dimana PPNSI sebagai bagian dari organ taktis wahabi secara terang-terangan menyampaikan maksudnya untuk menggabungkan Fornel ke dalam organisasi mereka.

Untuk membendung ini berbagai upaya dilakukan Lakpesdam NU diantaranya melakukan pendekatan dengan kelompok Nelayan di Desa Bandungharjo Kecamatan Donorojo yang merupakan salah satu kelompok nelayan yang tergabung dalam Fornel, desa ini merupakan daerah nelayan basis NU paling kuat, asumsi ini berdasarkan pada kondisi sosial dan kultur masyarakatnya yang cenderung pada kultur dan struktural NU. Selain itu Lakpesdam NU Jepara juga melakukan komunikasi dengan beberapa partai politik yang memiliki masa Nelayan yang tergabung di Fornel.

Bukan hal yang sia-sia konsolidasi yang dilakukan oleh Lakpesdam NU, ketidak sia-sian ini didapatkan ketika puncak acara deklarasi yang direncanakan oleh PPNSI di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Mlonggo tepatnya di Desa Jambu tanggal 29 Mei 2011 lalu.

Kemasan acara deklarasi yang cukup elegan di buat oleh PPNSI, yaitu acara sarasehan PPNSI dan Fornel bertajuk “Bersama Membangun Kemandirian dan Kesejahteraan Nelayan” dengan pembicara dari DPP PPNSI dan Lakpesdam NU serta mendatangkan jajaran pengurus DPP, DPW dan DPD PPNSI serta anggota DPR RI komisi X dari PKS Martri Agoeng dan dua anggota DPRD Jepara dari PKS.

Puncak acara deklarasi adalah dengan dibacakanya naskah oleh ketua Fornel, dimana dalam naskah tersebut menyatakan bahwa Fornel bergabung Bersama PPNSI, mungkin bagi PPNSI Nelayan adalah masyarakat marjinal dan mudah dibodohi. Fakta berbicara lain, ketika proses penandatanganan naskah akan dilakukan seorang anggota kelompok Nelayan dari Desa Bandungharjo bernama Sugeng menangkap kejanggalan dengan subtansi naskah deklarasi, dia meminta agar ada perubahan redaksi kalimat Bergabung Bersama diubah menjadi Bersama-sama, dia beralasan bahwa Fornel itu sejajar dengan PPNSI maupun organisasi masyarakat yang lainya. Fornel merupakan gabungan kelompok-kelompok nelayan yang anggotanya terdiri dari lintas partai, agama dan etnis.

Kondisi ini sontak membuat forum berubah terlebih ini seolah menjadi pukulan telak bagi jajaran PPNSI dan anggota DPR RI maupun DPRD PKS. Mereka tidak menduga kalau hal ini terjadi sehingga penyematan secara simbolis kartu anggotapun hampir saja terlupakan, meskipun akhirnya dilakukan. Ini adalah gambaran titik awal penyelamatan jaamah NU dari gerakan wahabi di wilayah pesisir yang dilakukan oleh Lakpesdam NU Jepara, tentu saja tidak hanya berhenti disini.

Agenda NU

Jepara hanya contoh kecil dari gelombang dan arus gerakan wahabi di wilayah pesisir, namun melihat fakta lapangan di Jepara bukan tidak mungkin masih banyak lagi daerah-daerah pesisir yang menjadi incaran gerakan wahabi dalam rangka merongrong ideologi warga Nahdiyin. Maka NU perlu Pertama, memikirkan dan bertindak secara seksama, bijak serta melakukan kajian mendalam, jangan sampai masyarakat Nelayan yang notabene hampir sebagian besar adalah warga Nahdliyin ini hilang ideologi ke-NU-annya, Kedua, NU harus melakukan koordinasi dan konsolidasi di kawasan pesisir (baca; Nelayan) baik secara struktural maupun kultural.

Ketiga, NU kiranya perlu membentuk Lembaga yang khusus dan konsen terhadap Nelayan (Kelautan dan Perikanan), semangat pemisahan sektor kelautan dan perikanan dari pertanian yang dilakukan ketika masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid belum diejawantahkan kedalam NU. Disisi lain, lembaga-lembaga yang dimiliki oleh NU belum ada yang secara khusus menangani Nelayan, selama ini yang ada Lembaga Pertanian (LP) NU, LP NU secara kelembagaan tentu saja tidak bisa mencakup Nelayan.

Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Badiul Hadi

Jumat, 17 Juni 2011

WARTA: Perempuan Saudi Menentang Larangan Mengemudi



















18/06/2011 11:36
Riyadh, NU Onlline
Perempuan Saudi bersiap menentang larangan mengemudi, Jumat ini atau sebulan setelah Manal al-Sharif dipenjara karena menyetir dan memasang gambar aksi pembangkangannya secara online.

Demonstrasi itu adalah puncak dari kampanye online selama dua bulan menunggangi angin yang disebut "Arab spring" (revolusi Arab) yang menyebarkan revolusi massa ke seluruh kawasan Arab dan telah menggulingkan dua rezim.

Tetapi, alih-alih mengorganisir demonstrasi, para perempuan yang memiliki SIM yang mereka peroleh di luar negeri itu diimbau tetap ada di balik kemudi dan menjalankan tugas mereka dengan tenang tanpa mengandalkan sopir pria.

Laman utama kampanye mereka lewat Facebook, Women2Drive, menjelaskan bahwa aksi itu akan mulai Jumat ini dan tetap berlangsung "hingga dikeluarkan dekrit kerajaan yang membolehkan perempuan mengemudi."

Kaum perempuan Arab Saudi menghadapi serangkaian pembatasan, mulai dari harus menutup kepala hingga kaki di depan publik dan mensyaratkan pria mendamping perempuan saat bepergian, sampai hanya punya akses terbatas ke pekerjaan karena aturan ketat pemisahan jenis kelamin.

Pelarangan itu membuat para perempuan harus membayar sopir asing yang gajinya masuk dalam pengeluaran rumah angga mereka. Bila tak mampu menggaji sopir, maka mereka harus mengandalkan anggota keluarga laki-laki mereka untuk mengantar.

"Pihak berwenang Arab Saudi harus berhenti memperlakukan perempuan sebagai warga kelas dua dan membuka jalan-jalan kerajaan bagi pengemudi perempuan," kata Amnesti Internasional yang berbasis di London, seperti dikutip AFP, Kamis.

"Tidak memperbolehkan perempuan berada di balik kemudi di Arab Saudi adalah penghalang besar bagi gerakan kebebasan, dan sungguh membatasi kemampuan wanita dalam beraktivitas sehari-hari padahal mereka sehat, seperti untuk pergi bekerja atau ke supermarket, atau menjemput anak-anak dari sekolah," kata Philip Luther, Wakil Direktur Amnesti Internasional untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

Tidak ada undang-undang yang melarang perempuan mengemudi di kerajaan kaya minyak itu, tapi kementerian dalam negeri memberlakukan peraturan berdasarkan fatwa dengan menetapkan perempuan tidak diijinkan mengemudi.

Demonstrasi massal terakhir melawan pelarangan itu digelar pada November 1990 saat sekelompok perempuan memukau para pria Saudi dengan mengemudi di sekitar Riyadh dalam 15 mobil sebelum kemudian mereka ditahan.

Waktu itu para perempuan tersebut dipancing oleh pandangan tentara perempuan AS yang lagi ambil bagian dalam Perang Teluk pertama untuk mengendarai kendaraan militer di negara mereka sendiri, padahal itu terlarang bagi mereka.

Beberapa di antara mereka dilaporkan mengatakan bahwa karena negara mereka dalam perang setelah pasukan Irak menginvasi negara tetangga, Kuwait, mereka merasa seperti "orang yang mudah diserang" karena mereka tidak bisa mengemudikan kendaraan padahal mereka juga perlu menyelamatkan keluarga mereka.

Ke-47 perempuan yang ikut dalam protes itu dihukum berat di mana diantaranya ditangguhkan dari pekerjaannya sebagai PNS, sedangkan atasan pria mereka ditegur. Mereka juga menghadapi kampanye fitnah lewat pamflet yang menyebut mereka pelacur.

Belum lama ini, seorang perempuan Saudi yang melanggar larangan itu berusaha menguji aturan itu di depan mereka yang berdemonstrasi. Seketika dia dikenai sanksi keras.

Manal al-Sharif, seorang ibu berusia 32 tahun, harus berada di balik jeruji selama dua minggu, bulan lalu, karena menentang larangan itu lebih dari satu kali dan memasang sebuah video di internet yang menunjukkan dia mengemudi di sekitar timur provinsi.

Raja Abdullah diminta oleh 3.345 orang untuk campur tangan demi wanita itu, sementara sekitar 24.000 orang mengungkapkan dukungan di halaman Facebook meminta pembebasannya.

Tindakan Sharif berlaku beberapa hari setelah perempuan Saudi lain, Najla al-Hariri, mengemudi di wilayah barat Jeddah selama beberapa hari sebagai isyarat tuntutannya atas haknya untuk mengemudi.

Enam perempuan lainnya ditahan selama beberapa jam minggu lalu setelah tertangkap belajar mengemudi di jalan kosong di Riyadh utara. Mereka dilepas setelah pengawal pria mereka dipanggil polisi dan menandatangani janji untuk tidak mengemudi.

"Bila anda ditangkap, jangan takut. Anda hanya akan diminta menandatangani janji," untuk tidak mengemudi, tulis salah satu dari beberapa rekomendasi yang dipasang dalam kampanye di laman Facebook.

Redaktur: Mukafi Niam
Sumber : Antara

Selasa, 14 Juni 2011

Warta: PBNU: Sekolah yang Tak Mau Upacara Bendera Sebaiknya Dibimbing Dahulu













Jakarta, NU Online
Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf berpendapat sekolah-sekolah yang selama ini tidak mau menyelenggarakan upacara bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tidak sepakat dengan Pancasila sebaiknya dibimbing dahulu, tidak perlu ditutup.

“Perlu dilakukan pendekatan, diberi pengartian perbedaan antara menyembah dengan member hormat dalam konteks sosial,” katanya di gedung PBNU, Selasa (14/6).

Ia menjelaskan, adanya sekolah yang bersikap seperti itu juga dikarenakan karena selama ini tidak ada pengawasan pasca runtuhnya Orde Baru mengenai ideologi negara sehingga ada ada kelalaian dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama sebagai kementerian yang membawahi sekolah dan madrasah.

Dijelaskannya, pendapat tentang haramnya menghormati bendera dan menyanyikan lagu Indonesia raya bukan hanya di daerah. Ia mengenal ulama dari ormas Islam kanan yang juga mengharamkan hal tersebut karena mengikuti fatwa dari ulama di Saudi Arabia.

Ia mencontohkan fenomena seperti itu seperti sungkem kepada orang tua. Hal ini tidak dapat disamakan dengan menyembah orang tua, tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua. “Dalam kehidupan kebangsaan juga seperti itu,” paparnya.

Dalam penetahuannya, pada penutupan acara di TV yang menggunakan lagu kebangsaan bukan hanya tejadi di Indonesia, tetapi Arab Saudi yang dikenal sebagai negara Islam konservatif dan menjadi rujukan kelompok Islam wahhabi juga melakukannya.

Penulis: Mukafi Niam

LSBO Selenggarakan Dialog Buku "Hikayat Kata"











Senin, 13-06-2011
Yogyakarta- Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahla , Rabu(8/6/11) mengadakan acara dialog dan peluncuran buku Hikayat Kata oleh Bambang Widiatmoko di kantor PP Muhammadiyah.

Bambang Widiatmoko menulis sebuah buku baru dengan mengisahkan pribadinya serta kekaguman pada sosok perempuan. Dengan latar belakang yang dulunya penulis tidak mempercayai kaum perempuan, kini dia menulis gambaran kekaguman pada seorang perempuan. Hal ini yang sangat menarik untuk para pembaca sekaligus penikmat.

Acara tersebut dihadiri tidak kurang dari 40 orang, dengan beberapa tokoh penting seperti Prof.Dr. Rahmat Djoko Pradopo(Guru besar Sastra UGM) Nur Sahid, Sugihastutik(Dosen FIB UGM), Rina ratih( dosen AD selaku pemateri),Nanang Arizona(moderator acara) dan Jabrohim selaku ketua LSBO.

Rina ratih selaku pemateri mengatakan bahwa, penyair yang menulis dirinya ingin pulang, adalah mempunyai makna yang sangat luas dengan sajak sajak dan fungsi bahasa yang lengkap. "Kata-kata yang tersirat dalam tulisannya bnyak menggunakan kata mungkinkah, bisakah dan tersirat keputusasaan. Si penulis juga dalam rangka mencari jatidiri dan menemukan cinta suci yang dtuangkan dalam karya puisinya cinta air mata. Penyair sengaja tidak mencamtumkan nama, tanggal, dan penciptaan karena puisi diciptaka oleh sesuatu yang dimaknai saja dan merupakan potret keadaan yang menarik yang sekejap dilihatnya,” jelasnya.

Sugihastutik juga menambahkan , sajak yang paling menarik dari karya karya pak bambang adalah puisi ke 74 “ sajak tentang perempuan” bagi sugihastutik, puisi ini sangat elok untuk dimaknai. Acara yang berlangsung kurang lebih 2 jam dengan pembahasan yang sangat menarik ini, sangat cocok untuk penikmat puisi yang bersajak lembut dengan makna yang dalam.