Rabu, 28 September 2011
Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati
Ubudiyyah
02/04/2007 11:01
Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:
وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى
“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)
Juga hadits Nabi MUhammad SAW:
اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ
“Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”
Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :
وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)
Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.
وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ
“Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ
“Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).
Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.
Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.
Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.
Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:
عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ
“Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”
Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.
KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)
Selasa, 27 September 2011
Muhammadiyah Terlalu Besar Untuk Dimasukkan Wilayah Politik Praktis
Selasa, 27-09-2011
Yogyakarta- Muhammadiyah adalah organisasi yang terlalu besar untuk dimasukkan dalam wilayah politik praktis, karena itu dengan banyaknya tawaran kekuasaan yang ada, menjadi ujian bagi Muhammadiyah konsisten pada jalurnya.
Hal tersebut disampaikan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam rapat Konsolidasi Nasional Muhammadiyah yang digelar di gedung PP Muhammadiyah Jl Cik Di TIro no.23, Yogyakarta, Selasa (27/09/2011). Dengan dinamika sosial yang saat ini, Muhammadiyah banyak didorong kekuatan-kekuatan untuk masuk dalam wilayah politik yang hanya memetingkan kepentingan sesaat, “Muhammadiyah harus konsisten untuk selalu menjadi leader dalam menjaga nilai-nilai agama pada setiap kebijakan dan dinamika sosial di tingkat grassroot ,” jelas Din Syamsuddin. Sebagai gerakan dakwah pencerahan dengan segala kelemahan dan sisa kekuatan yang dimiliki menurut Din, kita tetap optimis dan terus bergerak untuk kearah kemandirian. “Apabila Muhammadiyah bergerak kearah yang sangat tergantung pada pemerintah, maka Muhammadiyah juga akan hancur apabila negara juga hancur,” tegasnya.
Lebih lanjut menurut Din, apabila pemerintah tidak melanggar prinsip-prinsip kerakyatan dan agama, menurutnya, Muhammadiyah bisa menjadi garda terdepan dalam mengawal kebijakan pemerintah. Pada sisi lain Din mengungkapkan, hal yang tidak akan ditolerir oleh muhammadiyah adalah masalah korupsi dan kebijakan yang tidak merakyat, apalagi yang berkaitan dengan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
PBNU: Tutup Situs Penyebar Radikalisme
Warta
27/09/2011 20:08
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta Pemerintah secepatnya menutup website yang menyebarkan faham radikalisme. Halaman elektronik tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab masih maraknya aksi terorisme, selain faktor pendidikan, kemiskinan dan kesejahteraan yang belum memadai.
Seruan tersebut disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam jumpa pers di Gedung PBNU, setelah sebelumnya melakukan kunjungan ke lokasi ledakan bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah.
"Website yang menyebarkan radikalisme itu bahayanya melebihi situs porno. Saya secara pribadi dan atas nama PBNU meminta Pemerintah segera menutup itu," tegas Kiai Said di Jakarta, Selasa, 27 September 2011.
Kiai Said menjelaskan, situs-situs yang menyebarkan faham radikalisme, selain meresahkan masyarakat juga membelokkan ajaran Islam yang sesunguhnya. Salah satunya tentang makna jihad dalam artian yang sesungguhnya.
"Orang kalau melihat situs porno, reaksi sadar paling gampang hanya bilang Astagfirullah. Tapi kalau membuka situs radikalisme efeknya bisa lebih besar, orang akan memiliki pemahaman yang salah tentang agama yang bisa mengantarkannya menjadi pelaku terorisme," beber Kiai Said.
Untuk merealisasikan desakan tersebut, Kiai Said berjanji akan menyampaikannya secara langsung ke Pemerintah, apabila di kesempatan mendatang bisa bertemu secara langsung dengan pihak terkait.
"Kalau ternyata saya juga dimintai masukan, saya akan sampaikan. Bahkan kalau diminta rinci saya akan tulis masukan-masukan itu. Memberantas terorisme itu tugas bersama, termasuk Ormas Islam," tuntas Kiai Said.
Redaktur : Emha Nabil Haroen
Kontributor : Samsul Hadi
Kang Said: Jangan Percaya Pelaku Bom Bunuh Diri Dijemput Bidadari
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menunjukkan sikap kerasnya terhadap terorisme. Kali ini masyarakat diminta tak mempercayai doktrin pelaku bom bunuh diri akan dijemput bidadari, karena itu sama sekali tidak benar.
"Mereka (pelaku bom bunuh diri) selalu yakin setelah beraksi akan mati syahid, akan dijemput bidadari. Padahal itu gombal, itu sama sekali tidak benar," tegas Kiai Said di hadapan sejumlah wartawan dalam jumpa pers terkait sikap PBNU atas ledakan bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Selasa, 27 September 2011.
Kiai Said menambahkan, NU sebagai civil society bernafaskan Islam memiliki tugas bersama-sama Pemerintah untuk menangkal semakin meluasnya penyebaran doktrin tersebut. Bahkan NU juga mengajak seluruh Ormas juga untuk melakukannya, mengingat pemberantasan terorisme tidak bisa dilakukan segelintir orang atau kelompok.
"Ini (tugas pemberantasan terorisme) tugas bersama. Ormas, Pemerintah dan semua elemen masyarakat harus melakukannya, harus total dan bersama-sama," sambung Kiai Said.
Dalam paparannya Kiai Said juga menyayangkan begitu mudahnya generasi muda terpengaruh doktrin sesat tersebut, padahal kondisi di Indonesia sendiri diakui tak sepenuhnya mendukung suburnya radikalisme.
Kang Said, demikian Kiai Said masyhur disapa juga mengungkapkan, radikalisme dapat dimaklumi tubuh subur apabila Indonesia memiliki kondisi yang sama dengan kawasan Timur Tengah, dimana pendzaliman terhadap Islam terjadi secara terbuka dan terang-terangan.
"Sekali lagi saya tegaskan ini tugas bersama, tugas NU dan Ormas-ormas lainnya. Mari bersama-sama menyadarkan mereka yang sudah terseret doktrin radikalisme, dan mengajarkan bagaimana Islam yang sebenarnya ke masyarakat," tuntas Kang Said.
SOURCE: www.nu.or.id
Sabtu, 24 September 2011
Tumbuhkan Nasionalisme - Ribuan Mahasiswa Baru UMSU Pakai Batik

Kamis, 22-09-2011
Medan- Kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini kali beda dari biasanya. Bagaimana tidak, halaman kampus tersebut dipenuhi ribuan mahasiswa baru dengan mengenakan batik lengkap sejumlah barang bawaan untuk kegiatan masa penyamputan mahasiswa baru (MPMB) 2011.
Panitia MPMB, Ronni Darmawan menjelaskan pembukaan MPMB 2011 ini yang dilaksanakan di kampus UMSU Jalan Mukhtar Basri Medan, Senin (19/9) mengambil tema nasionalisme, sehingga mahasiswa baru diwajibkan mengenakan batik di hari pertama MPMB UMSU untuk tumbuhkan rasa nasionalisme.
Menurut Ronni, bawaan yang dibebankan kepada para mahasiswa bukan sebagai bentuk plonco, melainkan sudah tradisi mahasiswa harus melengkapi banyak barang hari pertama ini dengan barang yang tidak lazim dan hal ini dimaksudkan agar memunculkan kesan di mahasiswa baru sendiri.
“Kami tidak membebankan terlalu banyak tapi Itu bukan sebagai bentuk plonco, sebab makanan yang mereka bawa nantinya dimakan juga oleh mereka,” ujar Ronni.
Rektor UMSU, Agussani MAP menyebutkan Medan adalah kota pendidikan seperti keinginan Walikota Medan Rahudman Harahap. Karenanya UMSU siap dan sangat bersedia mewujudkan keinginan Walikota tersebut.
"Hal itu merupakan keinginan Walikota Medan. Jadi melalui lembaga UMSU kami akan membantu untuk mengaplikasikan keinginan walikota tersebut,” ucap Agussani di depan lebih dari 7000 mahasiswa baru UMSU.
Dengan tingginya jumlah mahasiswa baru tahun ajaran 2011/2012 menunjukkan besarnya minat dan kepercayaan masyarakat kepada UMSU. Prestasi ini merupakan tonggak sejarah tertinggi dalam sejarah perjalan UMSU, namun besaran angka tersebut adalah sebuah tantangan untuk UMSU meningkatkan kualitas pendidikan.
Pada kenyataannya, kini UMSU terus memperbaiki mutu tidak hanya dari sisi akademik tetapi juga nonakademik. Perwujudan hal ini akan terjuwud dengan kerjasama oleh semua pihak yang berada dilingkungan UMSU, mulai dari mahasiswa, pegawai, dosen, dekan dan rektorat.
"Walikota juga peduli terhadap UMSU,. Terbukti Jalan Ampera kini telah dilakukan pengaspalan sehingga jalur mahasiswa menuju kampus semakin dipermudah," kata Agussani.
Walikota Medan, Rahudman Harahap menyampaikan UMSU bukan lembaga pendidikan alternatif terakhir tetapi merupakan lembaga pendidikan favorit oleh calon mahasiswa baru. Hal ini jelas terbukti dari total mahasiswa baru yang sangat besar pada tahun ajaran 2011/2012.
Melalui moto UMSU, unggul, cerdas dan terpercaya butuh kerja keras guna mewujudkannya dan butuh peranan terpenting dari semua mahasiswa. Mulai dari belajar mencintai diri sendiri dan kemudian akan memunculkan rasa memiliki dan sayang didiri mahasiswa.
"Mahasiswa harus bisa menghargai para dosen, karena dengan menghargai dosen juga sebagai awal yang baik meraih kualitas pendidikan lebih baik lagi. Saya juga tidak ingin mendengarkan adanya aksi kekerasan di UMSU seperti di tempat-tempat lain," ucap Rahudman.
Dalam acara sambutan mahasiswa baru tersebut terlihat hadir Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut/NAD, Prof Nawawi Lubis, Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Hasan Basri dan seluruh civitas akademika lainnya.
Kang Said: Komitmen ke NKRI, NU Tolak Pendirian Negara Islam

22/09/2011 19:21
Jakarta, NU Online
Nahdlatul Ulama sebagai salah satu civil society dengan jumlah massa mencapai tujuh puluh juta orang, dengan tegas menyatakan komitmennya terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebaliknya, NU dengan tegas menolak keinginan sejumlah pihak menjadi Indonesia sebagai negara berlandaskan hukum Islam.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj, saat menerima kedatangan romongan dari Hizbut Tahrir Indonesis (HTI), Rabu, 21 September 2011. Dalam kunjungan tersebut, rombongan HTI yang dipimpin ketuanya Ismail Yusanto, menyatakan keinginannya untuk mengembalikan khilafah islamiyah di Indonesia.
"HTI mengakui itu sulit, tapi mereka masih berkeyakinan bisa mengembalikan khilafah islamiyah di Indonesia. NU terhadap keinginan tersebut dengan tegas menolak dan tetap berkomitmen terhadap keutuhan NKRI," tegas Kiai Said di Jakarta, Kamis, 22 September 2011.
Kiai Said menambahkan, komitmen NU terhadap keutuhan NKRI dikarenakan Indonesia masih masih bisa disebut islami, mengingat semua undang-undang yang diberlakukan tidak bertolak belakang dengan hukum-hukum Islam. Pancasila dianggap masih layak dijadikan dasar negara, karena isi yang terkandung di dalamnya juga tidak bertentangan dengan hukum Islam.
"Selama undang-undang tidak bertentangan dengan (hukum) Islam, itu sudah bisa disebut islami. Artinya tanpa menjadikan Indonesia negara Islam, undang-undang yang diberlakukan sudah islami ," imbuh Kang Said, demikian Kiai Said masyhur disapa.
Komitmen terhadap keutuhan NKRI juga ditegaskan oleh Kang Said dengan maksud menjaga legalitas semua surat menyurat yang telah dikeluarkan berdasarkan undang-undang di Indonesia. Jika Indonesia diubah menjadi negara Islam, sama artinya dengan menganggap undang-undang yang saat ini ada dengan semua keputusan yang dihasilkannya tidak sah.
"Kalau kita tidak mengakui NKRI, bagaimana dengan surat nikah semua warga negara. Nah atas dasar itu juga NU menegaskan komitmennya terhadap keutuhan NKRI," ujar Kang Said.
Meski menolak keinginan Indonesia menjadi negara berlandaskan hukum Islam, NU juga tetap berkomitmen menjalin hubungan baik dengan HTI. Kedatangan rombongan HTI ke PBNU salah satunya juga dilakukan atas dasar keinginan menyambung tali silaturahmi.
Redaktur : Emha Nabil Haroen
Kontributor : Samsul Hadi
Jumat, 23 September 2011
PBNU Minta PKS Hentikan Perebutan Masjid

21/09/2011 20:06
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhud meminta kepada Tifatul Sembiring agar pengambilalihan masjid-masjid NU yang selama ini ditengarai dilakukan oleh para kader PKS dihentikan demi persatuan umat.
“Bagaimana umat kita bisa bersatu kalau di lapisan bawah masih seperti ini,” kata Marsudi saat menerima kunjungan Tifatul Sembiring, Menkominfo yang juga kader PKS di gedung PBNU, Rabu (21/9).
Sejumlah kasus yang terjadi menggunakan modus munculnya seseorang yang dengan sukarela membantu membersihkan masjid, lalu membantu adzan, diteruskan dengan mengajak temannya untuk menjadi khotib dan akhirnya merubah seluruh kepengurusan takmir masjid dan tatanan peribadatan yang selama ini sudah berjalan dengan baik. Kemunculan kasus seperti ini akhirnya menimbulkan resistensi di masjid-masjid yang lain yang sebelumnya cukup terbuka dengan alasan untuk menjaga eksistensi peribadatan yang sudah ada dan diyakini kebenarannya.
Hal ini menanggapi pernyataan Mantan Presiden PKS ini yang mendambakan tumbuhnya persatuan dan ukhuwah dikalangan umat Islam, karena jika yang dilihat perbedaannya, sangat banyak sekali sehingga untuk memecah Indonesia, akan gampang.
Tifatul menjelaskan, tak ada kebijakan resmi dari partai yang meminta pengambilalihan aset ormas tertentu untuk dikelola oleh kader PKS. Masukan seperti ini tidak hanya datang dari NU, tetapi juga dari ormas Islam lainnya yang merasa sarana ibadah dan umat yang telah dibinanya diambil alih. Ditegaskannya, PKS adalah partai, bukan aliran agama, yang kadernya berasal dari berbagai ormas Islam dan mengakui adanya khilafiyah.
“Kita berdakwah bagaimana Islam bisa dimakmurkan, tidak ada ambil ini-itu. Tak ada gerakan mencuri bedug,” katanya.
Ketua PBNU Iqbal Sullam yang turut dalam pertemuan tersebut meminta agar sasaran dakwah difokuskan kepada umat Islam yang saat ini masih dikategorikan “abangan” yang potensinya masih sangat besar. “Tak perlu mengobrak-abrik tatanan yang selama ini sudah ada,” kata Iqbal.
Kiai Said Aqil Siroj mengungkapkan banyak persoalan besar umat Islam yang harus difikirkan dan diatasi bersama seperti masalah kelaparan dan peperangan di Somalia, revolusi di Mesir, perang di Libya, Irak dan negara berpenduduk mayoritas Islam lainnya yang sedang menghadapi masalah serius dan perlu bantuan. Perbedaan keyakinan, harus dihormati, apalagi yang sifatnya prinsipil seperti sejumlah amalan warga NU, yang oleh kelompok lainnya dianggap sebagai bid’ah.
Dakwah yang berhasil, menurut kiai Said, tidak dengan pendekatan halal-haram dan menyalahkan orang lain, tetapi dengan pendekatan kelembutan dan kasih sayang seperti yang dilakukan oleh Walisongo yang berhasil mengislamkan Nusantara.
Penulis: Mukafi Niam
Langganan:
Postingan (Atom)



