Jumat, 22 April 2011

Tawaran Alternatif Model Dan Strategi Dakwah Muhammadiyah Memasuki Usia Satu Abad



12 Juni 2010 12:40 WIB
Oleh : DR. Ali Imran Sinaga, M.Ag.



1. Da’wah bi as-Siyā (Dakwah dengan Wisata)


Kata as-Siyahah diartika sebagai wisata. Kara ini mengandung arti penyebaran. Oleh karena itu, dari kata itu dibentuk kata sahat yang berarti lapangan yang luas.
M. Quraisy Shihab pernah meruju’ pengertian siyahah (wisata) dari tafsir Alquran, di antaranya,

a. Muhammad Jamaluddin al-Qasimiy,’Saya telah menemukan sekian banyak pakar yang berpendapat bahwa Kitab Suci memrintahkan manusia agar mengorbankan sebagian masa hidupnya untuk melakukan wisata dan perjalanan agar ia dapat menemukan peninggalan-peninggalan lama, mengetahui kabar berita umat-umat terdahulu agar semua itu dapat menjadi pelajaran dan ‘ibrah yang dengannya dapat diketuk dengan keras otak-otak yang beku’.

b. Muhammad Rasyid Ridha,’Kelompok sufi mengkhususkan arti as-saihun yang dipuji itu adalah mereka yang melakukan perjalanan di muka bumi dalam rangka mendidik kehendak dan memperhalus jiwa mereka’.

c. Fakhruddin ar-Raziy,’Perjalanan wisata mempunyai dampak yang sangat besar dalam rangka menyempurnakan jiwa manusia. Karena, dengan perjalanan itu, ia mungkin memperoleh kesulitan dan kesukaran dan ketika itu ia mendidik jiwanya untuk bersabar. Mungkin juga ia menemui orang-orang terkemuka, sehingga ia dapat memperoleh dari mereka hal-hal yang tidak dimilikinya. Selain itu, ia juga dapat menyaksikan aneka ragam perbedaan ciptaan Allah. Walhasil, perjalanan wisata mempunyai dampak yang kuat dalam kehidupan beragama seseorang’.

Berdasarkan pemaparan konsep perjalanan wisata di atas, M.Quraish Shihah membenarkan adanya dakwah dan wisata ziarah. Namun, penekanan wisata tersebut justeru pada ziarah kepada makam-makam para nabi, ulama, dan pahlawan dapat dijadikan nilai dan selanjutnya tidak dijelaskan bagaimana proses dakwah wisata itu terjadi.

Sementara itu, penulis lebih menekankan bagaimana keberadaan warga dan simpatisan Muhammadiyah di tempat-tempat wisata yang disetting tersebut dapat menjadikan dirinya ber-muhasabah dan semakin mencintai dan menyukai tempat-tempat tertentu sekaligus organisasi Muhammadiyah secara perlahan-lahan. Biasanya, seseorang dapat betah dan tahan berlama-lama di tempat sesuatu karena tempat itu telah memberikan segala sesuatu yang dibutuhkannya seperti kenyamanan dan ketenangan.

Fakta di masyarakat membuktikan bahwa kesibukan manusia dalam bekerja selama sepekan telah membuat mereka mencari tempat-tempat hiburan untuk melepaskan kesuntukan dan kepenatan hati. Biasanya, manusia mencari tempat-tempat alam bebas yang menjanjikan ketenangan pikiran dan hati seperti pegunungan, sungai, air terjun, danau, laut, taman flora dan fauna, atau duplikan itu semua. Mereka akan meninggalkan rumah sebagai tempat tinggal selama ini sementara dan pergi menuju lokasi-lokasi tersebut.

Bahkan, kegiatan-kegiatan mendadak yang ada hubungannya dengan undangan pesta, rapat kerja, atau organisasi yang biasanya dimanfaatkan di hari libur, justru sudah dipastikan akan tidak dihadiri mereka. Apalagi, kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan di malam hari. Hal ini diperparah dengan terjadinya kelesuhan atau kejenuhan warga Muhammadiyah dan simpatisan untuk menghadiri pengajian-pengajian mingguan yang dilaksanakan di dalam mesjid atau kantor. Akibatnya, pengajian-pengajian tersebut sunyi dari warganya, padahal pengajian tersebut merupakan ruh kekuatan Muhammadiyah sebagaimana yang dibangun pertama sekali oleh KH. Ahmad Dahlan di kampong Kauman, Jogja dahulu.

Untuk mengembalikan ruh kekuatan yang sudah mulai lesuh tersebut dipandang perlu melakukan tindakan emergensi dakwah yang lain sebagai pendukung da’wah bi al-lisan dan da’wah bi al-hal yang selama ini telah berjalan cukup depensif, yaitu da’wah bi as-Siyahah.

Da’wah bi as-Siyasah adalah dakwah wisata dengan mengunjungi objek-objek wisata sebagai penarik minat massa dan bertahan sejenak untuk memperhatikan sekaligus menambah wawasan pengetahuan di tengah-tengah ketenangan dan kenyamanan lingkungan tanpa harus ditekan dengan pikiran keras.
Oleh karena itu, Muhammadiyah harus menjadikan dirinya sebagai objek wisata bagi warganya sendiri dan masyarakat luas. Strategi yang dapat dilakukan Muhammadiyah adalah:

a. Memperbesar dan memperindah Mesjidnya dan memperluas tanahnya agar semakin banyak menampung jema’ah sekaligus masyarakat sekitar semakin bergantung pada peran Muhammadiyah dalam banyak hal kepada diri mereka dalam berbagai hal. Jika mesjid sudah tidak memiliki tanah yang luas, apalagi di pinggir jalan raya yang menyebabkan kebisingan, maka ruangan yang ber-AC sebagai solusi yang tepat dan meredam kebisingan suara-suara kenderaan bermesin.

b. Muhammadiyah membangun citra syurga mini pada setiap gedung-gedung yang dimilikinya, seperti membuat taman yang berisikan air mancur yang dihuni ikan-ikan, bangku-bangku, tumbuhan-tumbuhan hijau baik mesjid, kantor, sekolah/madrasah ,perguruan tinggi, panti-panti asuhan dan koperasi. Hal ini pernah dilakukan oleh banyak dinasti-dinasti kecil dan besar dalam kekhalifahan Umayyah dan Abbasyiyah. Seperti: Alquran selalu menggunakan kata jannah untuk menyebut surganya, sedangkan kata jannah ini dapat berarti dua hal yaitu surga dan taman. Ketika jannah diartikan surga selalu saja Alquran mengelaborasinya dengan kata,’mengalir di bawahnya sungai-sungai’ atau ‘terdapat bangku-bangku’ atau ‘gelas-gelas’ atau ‘bidadari’ ataupun ‘pepohonan yang dihiasi dengan buah-buahan’. Beginilah, Alquran menggambarkan sebagian suasana surga. Kemudian, ulama dan intelektual muslim mendapat ilham menciptakan ‘taman/surga’ di dunia ini sebagai harapan semoga kehidupan di dunia sama seperti di surga yang dipenuhi dengan taman-taman, seperti di rumah, mesjid, dan sekitar gedung-gedung istana mereka. Fakta sejarah mengungkapkan bahwa orang-orang muslim telah menciptakan taman tersebut, seperti:
1. Taman Herertal del Rey di Toledo.
2. Taman Raja Taifa di Spanyol.
3. Taman al-Khams dan Tamurid di Tabriz.
4. Taman Mahmud Ghazna di Balkh.
5. Taman Al-Mu’tasam di Samarra.
6. Taman Istana Amir Aghlabiyah di Tunisia.
7. Taman Hafsid di Tunisia (Dinasti Fathimiyah)
8. Taman di Fez dan Marakesh (Maroko)
9. Kebun Raya (Botanical Garden) ar-Rahman Amir I pada Dinasti Umayyah Spanyol.
10. Taman di dalam Istana Al-Hamra pada Dinasti Umayyah Spanyol.
11. Taman sekitar Taj Mahal di India.
Dengan demikian, layaklah kalau diartikan hadis Nabi saw.’Baiti jannati’ diartikan rumahku adalah tamanku’. Bukan surga sebab tidak mungkin manusia dapat menciptakan surga di dunia.

c. Ketika taman yang diinginkan telah tercapai, Muhammadiyah sedikit banyak menerapkan sistem pengkarangkengan sejumlah binatang-binatang langka di sela-sela taman tersebut untuk sedikit memecah keheningan, menarik perhatian, sekaligus menambah wawasan pengetahuan.


2. Da’wah bi al-Fann (Dakwah dengan Seni)


Seni adalah keindahan. Ia merupakan ekspesi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apapun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia atau fitrah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamban-Nya. Adalah merupakan satu hal yang mustahil bila Allah yang menganugerahkan manusia potensi untuk menikmati dan mengekspresikan keindahan, kemudian Dia melarangnya. Bukankah Islam adalah agama fitrah ? segala yang bertentangan dengan fitrah ditolaknya dan yang mendukung kesuciannya ditopangnya.

Namun, ternyata Islam tiak sekaligus menerima segala macam seni yang berkembang walaupun dari hasil ekspressi manusia. Islam sangat berhati-hati dalam hal ini. Oleh karena itu, Tim Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan jawaban terhadap konsep seni bahwa Muhammadiyah tidak melarang kesenian yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam karena Muhammadiyah adalah gerakan Dakwah Islam Amar Makruf Nahi Mungkar. Hanya saja Muhammadiyah sangat berhati-hati dalam hal ini. Tidak memberikan tuntunan yang praktis dan terinci mengenai kesenian yag bagaimana yang boleh dan tidak boleh , tetapi dalam keputusannya memberikan pokok-pokok saja, seperti dalam menetapkan soal seni rupa dan seni suara:

a. Dalam seni hukumnya berkisar kepada illatnya (sebabnya), ialah ada tiga macam: 1) Untuk disembah, hukumnya haram berdasarkan nash, 2) Untuk pengajaran hukumnya mubah, 3) Untuk perhiasan ada dua: a) Tidak khawatir medatangkan fitnah hukumnya mubah, b) Mendatangkan fitnah ada dua macam: 1. Jika fitnah itu pada maksiat hukumnya makruh,

2. jika fitnah itu kepada musyrik hukumnya haram.

b. Seni suara, khususnya suara alat bunyi-bunyian. Alat bunyi-bunyian hukumnya berkisar pada illatnya, dan hal itu ada tiga macam: 1) Menarik kepada keutamaan hukumnya sunat, 2) Hanya sekedar untuk main-main belaka (tidak mendatangkan apa-apa) hukumnya makruh, 3) Menarik kepada maksiat hukumnya haram. Dalam pelaksanaannya memerlukan pertimbangan yang seksama dan memerlukan kearifan.

c. Seni bela diri, sekalipun tidak dirumuskan dalam suatu keputusan hukumnya, namun, dalam pelaksanaannya telah berdiri bahkan menjadi ortom, yakni Tapak Suci. Majlis Tarjih membolehkan hal itu sepanjang dalam pelaksanaannya dapat dijaga tidak menyimpang dari ajaran Islam, seperti dalam hal pakaiannya, dan hubungannya pria dan wanitanya.

Seringkali terjadi image di dalam masyarakat luas bahwa Muhammadiyah ’kering dan tandus’ dari suara-suara seni baik seni suara, seni lukis apalagi seni musik. Sepertinya Muhammadiyah selama ini menjauhkan diri dari kondisi tersebut. Untuk itu, Muhammadiyah harus kembali membangun kepercayaan masyarakat dengan cara menyahuti keinginan masyarakat tanpa harus mengorbankan ideologi Muhammadiyah yang telah mapan tersebut dengan cara melakukan strategi, yaitu:

a. Muhammadiyah menggalakkan kembali pemberantasan bisu lagu-lagu Alquran dengan cara terus-menerus memasukkan kurikulum di tingkat Sekolah /Madrasah yang diampu oleh guru-guru yang ahli dan profesional. Dengan demikian, kefasihan Imam salat terimbangi dengan lagu-lagu Alquran ditambah lagi dalam pembukaan acara-acara tertentu dibacakan Alquran oleh qari/qariah.

b. Muhammadiyah harus membangun musik-musik mandiri tanpa kehilangan citra kesyahduannya dan nilai-nilai ideologinya.

c. Muhammadiyah mandiri dalam seni kaligrafi Arab sebagai wujud dari keindahan tulisan.


3. Da’wah bi al-Iqtishadiyah (Dakwah Ekonomi)


Satu sisi Muhammadiyah mempunyai keistimewaan dalam mengumpulkan dana untuk suatu keperluan mendadak dan terjadwal melalui kegiatan yang disebut dengan GAS (Gerakan Amal Saleh) yang diperoleh dari anggota dan simpatisan. Dana tersebut dipergunakan biasanya untuk fakir miskin dalam bulan Ramadhan dan pembangunan tertentu. Namun, Muhammadiyah jarang memikirkan kondisi warga dan simpatisannya yang memerlukan dana untuk keperluan keluarganya sehingga mereka tidak bisa menghadiri pengajian perminggu disebabkan harus mencari nafkah di luar. Sedekah yang diberikan justru setahun sekali di bulan Ramadhan, padahal manusia makan tiap hari. Untuk itu, strategi yang dapat dilakukan adalah:

a. Muhammadiyah mengitensifkan pemberdayaan Bank yang dimilikinya untuk keperluan anggota dan simpatisan dengan sistem bagi hasil.
b. Muhammadiyah dalam jangka panjang dapat memiliki stasiun Radio dan Televisi sendiri dalam menyampaikan pesan-pesan ideologinya.

4. Dakwah kader.
Untuk keberlangsungan Muhammadiyah di masa depan kader-kader perlu diintensifkan dengan melakukan strategi:

a. Mengirim kader-kader Muhammadiyah untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah dan atau Eropah agar lebih berkualitas.

b. Menggalakkan kembali pengajian-pengajian sebagai ruh Muhammadiyah sejak awal tumbuhnya dengan cara daftar hadir, inventaris kembali kryawan, guru, dosen, pejabat yang bekerja di amal usaha Muhammadiiyah harus terdaftar di rantingnya masing-masing sebab bagaimana mungkin bukan kader Muhammadiyah mendirikan Muhammadiyah secara ikhlas dan serius. Inilah mungkin pernyataan ’Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah dan jangan cari hidup di Muhammadiyah’ wahai orang-orang yang bukan kader Muhammadiyah. Termasuk politikus harus terdaftar di ranting Muhmmadiyah.

Kondisi yang menurun dilatar belakangi kejenuhan dalam pengajian bi al-lisan dan sedikit bi al-hal selama ini. Tentunya, diketahui akibat kejenuhan itu sendiri (surat al-Ma’arij ayat 19 dst) mengakibatkan berkurangnya respon dan antusiasitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar