Jumat, 21 Oktober 2011

Pianis Cacat dan Terbelakang Mental, yang Jadi Motivator Internasional


Fantasie Impromptu karya Frederic Chopin yang terkenal rumit dan cepat itu hanya dimainkan dengan empat jari? Yes, why not?

Hee Ah Lee, pianis berusia 21 tahun asal Korea itu membuat 1000 penonton di Balai Kartini, Jakarta, terkagum-kagum tak ada habisnya, dalam konser bertajuk “Sharing The Strength of Love” (31/3/2007). 

Hee menderita lobster claw syndrome, pada masing-masing ujung tangannya terdapat dua jari yang membentuk huruf V seperti capit kepiting. Kakinya hanya sebatas bawah lutut, sehingga tinggi badannya hanya satu meter. Ia juga mengalami keterbelakangan mental.

Subhanallah… it’s a miracle, yang dihadirkan oleh seorang yang cacat dan keterbelakangan mental.Riwayat Masa Kecil dan Ketekunan Pendidikan MentalHee lahir dari Woo Kap Sun (50). Woo telah mengetahui sejak awal bahwa anaknya akan terlahir cacat. Sanak keluarga Woo menganggap itu sebagai aib. Mereka menyarankan agar bayi itu dikirim ke panti asuhan. 

Woo menolak saran tersebut. Ia menerima Hee sebagai kenyataan dan anugerah.Woo merawat, mendidik dan memperkenalkan Hee pada kehidupan nyata. Ia memperlakukan Hee sebagaimana anak-anak lain. Untuk melatih kekuatan otot tangan, Hee diajarinya bermain piano sejak usia 6 tahun. Saat itu, jarinya belum mampu mengangkat pensil. 

Saat umur Hee Ah menginjak tujuh tahun, tangannya masih belum bisa berfungsi. Memegang pensil pun tak bisa. Woo menggunakan piano kecil di rumah untuk melatih tangan Hee Ah. Dengan kondisi keterbelakangan mental dan sulit berhitung, tidak mudah mengajarinya main piano dengan nada-nada yang harus "dihitung-hitung".Hee Ah juga didampingi guru. Cho Mi Kyong merupakan guru pertamanya. Guru inilah yang mengajari Hee Ah dasar-dasar bermain piano. 

Cho adalah guru yang keras, karena memperlakukan Hee Ah sebagai layaknya orang yang bermain dengan 10 jari. Ia tidak melatih Hee dengan pertimbangan rasa kasihan karena kondisi fisik. Hee pun berpindah dari satu guru ke guru lainnya, disamping belajar sendiri dibimbing ibunya yang dengan penuh kasih sayang serta kesabaran yang luar biasa, menemani Hee kemana saja.

Always Keep Fighting Spirit and Never Give up...“Bayangkan Anda makan satu jenis makanan terus menerus. Aku pernah bosan. Tapi, aku memakannnya terus. Aku berlatih terus menerus,” kata Hee tentang ketekunan, “Aku berlatih terus hingga lelah dan menangis. Betapa sulit bermain dengan empat jari. Susah sekali bagiku memainkan notasi yang bersambungan.”

Sikap Percaya diri yang ditanamkan dalam menghadapi segala cobaanKehidupan keluarganya serba sulit. Selain mengurus dirinya (Hee Ah), ibunya juga harus merawat ayahnya yang veteran tentara Korea. Sebagian tubuh ayahnya lumpuh karena terluka saat bertugas. Belum selesai satu cobaan, cobaan lain datang. Lutut Hee Ah luka dan terserang penyakit. Luka itu disebabkan Hee Ah terlalu sering berjalan dengan lutut. Maklum, Hee Ah yang tak punya kaki harus berjalan menggunakan lututnya. 

Hee Ah masuk rumah sakit dan harus dioperasi. Saat Hee Ah sedang sakit, ayahnya juga sakit parah. Woo (ibunya) pun tak luput dari penyakit kanker payudara. Mungkin ini akibat kecapekan dan stres tiada henti yang dialami ibunya. Parahnya, Hee Ah mogok tak mau main piano. Woo sedih sekali. Namun, Woo sadar, Hee Ah sedang dalam masa puber. Mungkin dia sedang banyak pikiran. Hee Ah pun harus sampai masuk rumah sakit jiwa. Tetapi apa kata para dokter? Mereka bilang, satu-satunya solusi adalah Hee Ah harus tetap main piano. 

Akhirnya, Woo bertekad untuk mengajari Hee Ah main piano dari awal lagi. Ibunya berusaha mengembalikan rasa percaya diri Hee Ah. Ibunya berkata, "Kalau kamu berhenti dari sekarang, tidak ada orang yang akan memandang kamu. Kamu pun tidak akan percaya diri. Tenang aja, Tuhan akan membantu dan berada di samping kamu. Karena kekurangan jari, kamu mungkin tidak seperti orang kebanyakan. 

Tetapi karena kamu punya kekurangan, Tuhan pun pasti akan lebih memberi." Begitulah cara sang ibu menanamkan rasa percaya diri. Ia menggembleng Hee agar tumbuh mandiri, penuh percaya diri dan bersemangat baja menghadapi hidup. Salah satu ketekunan dan kerja kerasnya, untuk bisa memainkan karya Chopin Fantasie Impromptu, Hee berlatih 5 - 10 jam sehari selama 5 tahun. 

Hasilnya memang luar biasa. Umur 12 tahun, Hee telah menggelar resital piano tunggal. Wow...Menjadi Pianis Terkenal dan Motivator DuniaDalam video tersebut, Anda sudah melihat, Hee Ah memainkan karya-karya sulit komposer dunia hanya dengan keempat jarinya! Berbagai nomor dari pianis kondang seperti Chopin, Bethoven, dan Mozart telah dikuasainya. Ia bisa memainkan Piano Concerto No 21 dari Mozart bersama orkes simphoni. Ia juga telah mendapat sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano, seperti penghargaan Overcoming Physical Difficulty dari presiden Korea, Kim Dae Jong. 

Ia juga mendapat penghargaan sebagai salah satu siswa terbaik di Seoul oleh Korean Education  Department. Tawaran konser di luar negeri pun mengalir. Sejak April 2006, ia mendapat sponsor dari Ministry of Education & Human Resource Development, untuk keliling dunia selama 9 bulan menggelar konser di berbagai negara.

Ia pernah bermain bersama pianis Richard Clayderman (di USA) dan Thames Philharmonic Orchestra (di Inggris). Pianis yang telah diangkat sebagai warga kehormatan Korea ini telah mengeluarkan satu album bertitel "Hee Ah, A Pianist with Four Finger", yang menampilkan komposisi klasik favorit.. Luar biasa...!!! Perjuangan Tiada Henti. 

Saat karier Hee Ah mulai menanjak, kesedihan kembali melanda keluarganya. Ayah Hee Ah meninggal dunia. Demi mengurus semua keperluan Hee Ah, ibunya terpaksa berhenti dari pekerjaannya. Ia akan selalu bertekad membuat Hee Ah bahagia. Ibunya berkata, "Jika nanti saya sudah tidak ada, saya yakin pasti ada orang yang lebih sayang padanya. Kalau bisa, sebelum saya meninggal, Hee Ah telah menemukan pasangan yang benar-benar bisa melindungi dan mencintainya setulus hati agar dia bisa hidup bahagia. Sebagai pengganti Ibunya." Rasa bangga dan bahagia tampak jelas di raut wajah ibunya. Bagaimana tidak, berkat didikannya (yang disertai ketekunan, cinta kasih dan pengorbanan), Hee Ah bisa dengan mudah memegang sendok dan sumpit. 

Kini, ibunya yang telah sembuh dari kanker payudara senantiasa setia menemani sang putri tour keliling dunia. He Ah memang telah membuktikan dirinya bisa berprestasi berkat ketekunannya.Pelajaran yang didapat :He Ah Lee menjadi inspirasi bagi mereka yang merasa diri sempurna untuk berbuat sesuatu bagi kehidupan. Kekuatan kasih telah merubah ”kekurangan” menjadi kekuatan.

Ibunya menjalani kehidupan sebagai permainan menurut aturan disiplin, untuk kemudian menikmati permainan dengan segenap perjuangan! Dikarunia seorang anak yang cacat, rasa kecewa tampaknya sukar dihindari (karena manusiawi sifatnya). 

Dengan semangat menjalani kehidupan sebagai permainan, ibunya dapat terhindar dari rasa kecewa. Sang ibu yang berhati tegar ini menanamkan semangat dan sikap optimistis di hati putrinya. Ini dilakukannya agar si anak dijauhkan dari sikap pesimistis dalam kehidupannya. Dari Hee Ah Lee, kita belajar tentang kerendah-hatian, ketekunan, kesabaran, kerja keras dan percaya diri, dalam bentuknya yang paling nyata.

SOURCE: int/bs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar